Perubahan Peran Perpustakaan dan Pustakawan di Era Industri 4.0

Jumat, 29 Mei 2020

admin

Berita

Dibaca: 78 kali

Saat ini dunia berada di zaman dimana Revolusi Industri 4.0 baru saja dimulai. Menurut Wikipedia yang dimaksud dengan Industri 4.0 adalah nama tren otomasi dan pertukaran data terkini dalam teknologi pabrik. Istilah ini mencakup sistem siber-fisik, internet untuk segala, komputasi awan, dan komputasi kognitif. Industri 4.0 menghasilkan pabrik cerdas. Di dalam pabrik cerdas berstruktur moduler, sistem siber-fisik mengawasi proses fisik, menciptakan salinan dunia fisik secara virtual, dan membuat keputusan yang tidak terpusat. Lewat Internet untuk segala (IoT), sistem siber-fisik berkomunikasi dan bekerja sama dengan satu sama lain dan manusia secara bersamaan. Lewat komputasi awan, layanan internal dan lintas organisasi disediakan dan dimanfaatkan oleh berbagai pihak di dalam rantai nilai Revolusi Industri 4.0 menerapkan konsep automatisasi yang dilakukan oleh mesin tanpa memerlukan tenaga manusia dalam pengaplikasiannya. Penerapan Revolusi Industri 4.0 di pabrik-pabrik saat ini juga dikenal dengan istilah Smart Factory. Tidak hanya itu, saat ini pengambilan ataupun pertukaran data juga dapat dilakukan on time saat dibutuhkan melalui jaringan internet.

Era Industri. 4.0 pun berimbas pada dunia perpustakaan. Perpustakaan dan Pustakawan dituntut untuk dapat beradaptasi agar tidak ditinggal pemustakanya dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam semua kegiatannya. Pusat Data dan Dokumentasi Ilmiah – Lembaga llmu Pengetahuan Indonesia, yang selanjutnya disebut PDDI-LIPI pun melakukan beberapa perubahan peran perpustakaan dan pustakawannya. Hal ini yang dibahas oleh  Hendro Subagyo, M.Eng, Plt. Kepala Pusat Data dan Dokumetasi Ilmiah LIPI pada acara webinar PDDI LIPI knowledge Sharing dengan tema Perpustakaan dan Pustakawan Menghadapi New Normal (Kenormalan baru) pada Rabu, 20 Mei 2020. Dalam paparannya berjudul Perubahan Peran Perpustakaan dan Pustakawan di Era Industri 4.0, Hendro membahas perubahan-perubahan apa yang terjadi di PDDI LIPI.

PDDI LIPI merupakan salah satu satuan kerja eselon II di bawah LIPI yang memiliki tugas pengelolaan data, informasi dan dokumentasi ilmiah dan non ilmiah, elib-PDII. Dalam upaya optimalisasi mendukung visi LIPI yakni menjadi lembaga ilmu pengetahuan berkelas dunia dalam penelitian, pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan untuk meningkatkan daya saing bangsa, PDDI melaksanakan Rencana Strategis Lembaga lmu Pengetahuan Indonesia 2015-2019 dalam berbagai kegiatan di bidang Pengembangan Sistem Dokumentasi dan Informasi Ilmiah. Tujuan kegiatan tersebut adalah meningkatkan kapasitas dan kemampuannya agar menjadi Pusat Repositori Ilmiah Nasional di Indonesia, serta menyebarkan dan mendifusikan informasi ilmiah ke seluruh wilayah di Indonesia. Adapun sasaran yang ingin dicapai melalui kegiatan tersebut yaitu terbangunnya repositori serta terdiseminasinya dan terdifusinya informasi ilmiah ke daerah. Sebelumnya namanya bukan PDDI tetapi PDII (Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah), barulah tahun 2019 berubahh menjadi PDDI. Beberapa langkah optimalisasi Tugas dan Fungsi PDII, diantaranya penyatuan dan pemurnian fungsi kepustakaan seluruh LIPI ke PDDI, PDDI sebagai pusat Knowledge Management LIPI, PDDI mengelola data dan karya ilmiah, hanya memiliki lima puluh pegawai di pusat.

Lebih lanjut Hendro menyampaikan terkait dengan perpustakaan karena google sudah menjadi penguasa informasi di segala bidang lantas siapa yang akan mengunjungi perpustakaan karena kebanyakan perpustakaan masih berisi buku tercetak. Apakah perpustakaan secara fisik akan hilang karena saat ini ada beberapa yang terdisrupsi dengan adanya kemajuan TIK misalnya, otomasi gerbang tol sudah otomatis menggantikan peran petugas pembayaran tol. Oleh karena itu menurut Hendro, perpustakaan LIPI dan pustakawannya harus ikut berubah. Dibutuhkan koneksi, kolaborasi, dan konvergensi yang lebih baik. Era industri 4.0 memiliki beberapa komponen, diantaranya cyber-physical system, Internet of Things (benda-benda yang terkoneksi dalam suatu jaringan), dan Internet of Service (Layanan-layanan terkoneksi dalam suatu jaringan). Menurut Jim Gray, 2009, mengatakan bahwa sains memasuki paradigma ke-4, yaitu lebih kolaboratif, lebih komputasional dan lebih intensif menggunakan data. Prinsip-prinsip Industri 4.0 pun berubah yaitu Interoperabilitas, Virtualisasi, Desentralisasi, Kapabilitas Real-Time, Berorientasi Service dan Modularitas.

Bagi perpustakaan dan pustakawan pada institusi sains perubahan yang dilakukan adalah dari literature expert ke information expert dan data scientist. Pada perpustakaan dengan konsep lama  koleksinya berupa buku, jurnal, laporan dan dokumen. Kegiatannya berupa klasifikasi, pengindeksan, pencarian, membangun ontologi, dan preservasi. Hasil yang dicapai adalah ringkasan informasi, infografis, dan lain-lain. Pada perpustakaan masa kini di PDII LIPI, koleksi selain yang tadi juga ada data, spesimen, multimedia, data streaming, dan lain sebagainya. Pekerjaan dilakukan bertambah dengan kurasi, penilaian, manajemen pengetahuan. Sedangkan hasil yang diharapkan bertambah menjadi manajemen data, kurasi data, analisis data, visualisasi data, dan sebagainya. Dengan begitu obyek yang dikelola pun semakin beragam dan kompleks, yaitu literatur fisik, literatur digital, info pakar dan jaringan, data dan metadata, obyek digital dan metadatanya, serta jaringan semantik.

Cara dan alat kerja pun berubah, diantaranya dari AACR2 menjadi RDA, dimana metadata literatur (bibliografi) mengikuti standar pembuatan metadata obyek digital (RDF, Triplet) dan kartu katalog berubah menjadi aplikasi RDA. Selain itu pengguna (pemustaka) modern lebih mandiri, memiliki demand tinggi sehingga lebih rumit, layanan perpustakaan serba otomatis selain layanan literatur, perpustakaan menyediakan layanan data, informasi (sintesa), konsultan topik/tren penelitian, penghubung dengan komunitas dan pakar, selain kompetensi tentang literatur, klasifikasi literatur juga perlu memiliki kompetensi lebih luas tentang kategorisasi segala sesuatu, kurasi, preservasi, valuasi data dan informasi, dan komunikasi (verbal, visual/grafis, audio-visual), dan lain-lain. (AGU)

Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas

Pencarian

Berita Gunungkidul





semua download

Download

Statistik

034236

Pengunjung Hari ini : 159
Total pengunjung : 34236
Hits hari ini : 957
Total Hits : 378180
Pengunjung Online : 2

Jajak Pendapat

Bagaimanakah tampilan website DPK?
Sangat Puas
Puas
Cukup Puas
Kurang Puas

Lihat